Miris, Nutrisi Beras Kian Menurun Akibat Perubahan Iklim

Meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer akibat perubahan iklim membuat nutrisi beras kian menurun. Hal ini dikemukakan oleh peneliti dari Tokyo University ketika mengamati pertumbuhan padi di Jepang dan China.

Peneliti tersebut menggunakan sistem pipa di lahan sawah untuk mengetahui tingkat karbon dioksida yang masuk ke tanaman padi. Sistem pipa tersebut memiliki sensor angin dan detektor gas sehingga peneliti tahu pasti kadar karbon dioksida yang terserap oleh tanaman.

Hasil penelitian menunjukkan, terdapat hubungan terbalik antara kadar karbon dioksida dengan kualitas nutrisi. Seperti dilansir dari Jurnal Science Advances, semakin tinggi kadar karbon dioksida yang diserap oleh padi maka semakin rendah kadar vitamin dan mineral pada beras.

“Beras tak hanya menjadi sumber utama kalori, tetapi juga protein dan vitamin bagi banyak orang di negara berkembang dan masyarakat kurang mampu di negara maju,” jelas Kazuhiko Kobayashi, profesor di Tokyo University.

Perlu diketahui, masyarakat Jepang sekarang ini hanya mendapat 20 persen energi dari beras. Walau begitu, beras tetap jadi makanan pokok di Asia. Beberapa negara seperti Indonesia, Kamboja, Bangladesh, Myanmar, Vietnam, dan Laos atau sekitar 600 juta orang masih mengandalkan beras untuk memenuhi 50 persen asupan energi dan protein sehari-hari.

Demi memastikan beras terus memiliki nutrisi cukup di tengah perubahan iklim, para peneliti dan petani harus mengembangkan varietas padi dengan kualitas yang lebih tahan banting.

Baca Juga: Outbond M-Tani: Wujudkan Era Baru Pertanian Menuju 10.000 Hektar Lahan Berkelanjutan

Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko selaku Kepala Staf Presiden telah menciptakan varietas benih padi unggul M-400 yang memiliki produktivitas enam sampai delapan ton per hektar.

Melalui M-Tani Group, para petani dapat menggunakan benih M-400 bersamaan dengan paket pupuk organik yang dijamin dapat memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi dampak perubahan iklim, seperti berkurangnya nutrisi pada beras yang kini cukup mengkhawatirkan.

 

Sumber: United Press International